
Kemajuan teknologi dan informasi di era global seperti menuntut kemajuan
pula di berbagai aspek kehidupan manusia.
Mau tidak mau, siap tidak siap manusia juga harus dituntut untuk maju
dan berkembang dalam mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Tidak
hanya manusia, salah satu yang dituntut untuk berperan serta dalam mengiringi
kemajuan teknologi dan informasi adalah bidang pendidikan. Dalam bidang
pendidikan, perpustakaan merupakan salah satu wahana yang paling mendapat
tuntutan kemajuan yang lebih pesat dibandingkan yang lain.
Perpustakaan dituntut harus memiliki kemajuan yang lebih pesat seiring
dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini disebabkan karena perpustakaan
merupakan sumber informasi dan sangat mendukung terlaksananya pendidikan di
berbagai pihak. Perpustakaan di era globalisasi saat ini dituntut tidak hanya
untuk menyediakan bahan-bahan pustaka yang akan digunakan dalam proses belajar
mengajar maupun sebagai bahan bacaan masyarakat luas, lebih dari itu
perpustakaan harus mampu menyediakan informasi yang terbaru dan aktual yang
bisa dijadikan referensi banyak pihak.
Kemajuan perpustakaan tidak hanya mengenai informasi yang dapat kita
peroleh melalui perpustakaan, tetapi juga segala upaya yang diperlukan
perpustakaan dalam menarik minat para pembacanya dengan kata lain kemajuan
teknologi dan informasi juga harus diterapkan dalam pengelolaannya.
Promosi
Perpustakaan
Di era globalisasi, informasi beredar
dengan sangat bebas sehingga ekstremnya tidak terkendali serta arusnya tanpa
batas. Karena kondisi tersebut, perpustakaan sekolah jika tidak dinamis dan
menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat dan dunia global, tentu akan
tersisihkan dan ditinggalkan pengunjungnya.
Ada beberapa langkah strategis yang bisa
dilakukan oleh pustakawan untuk pengembangan perpustakaan sekolah di era
global. Diantaranya, dengan promosi perpustakaan, aplikasi IT dalam dunia
perpustakaan, perpustakaan digital, perpustakaan hybrid, dan pengembangan perpustakaan sekolah dengan paradigm
kekinian.
1.
Promosi Perpustakaan sebagai Tuntutan
Zaman
Alison
Arwell (dalam Prastowo, 2012: 385) mengungkapkan bahwa program pengembangan
perpustakaan sekolah pada umumnya selama ini dianggap gagal. Hal tersebut
dikarenakan kurangnya komunikasi antara pihak perpustakaan dengan pihak-pihak
terkait lainnya di sekolah. Pihak sekolah antara lain adalah para administrator
(kepala sekolah dan wakilnya), guru, siswa, dan orang tua siswa, serta anggota
masyarakat setempat. Dalam mempromosikan dan memajukan perpustakaan, pustakawan
harus peka terhadap perubahan dan hal-hal baru yang semua belum tercakup dalam
program perpustakaan.
Ada
beberapa langkah yang bisa ditempuh oleh pustakawan untuk mempromosikan perpustakaan
sekolah. Pertama, mempromosikan
perpustakaan kepada administrator sekolah. Cara yang efektif adalah dengan
mengontak kepala sekolah dan menunjukan prestasi perpustakaan yang didukung
data statistic guru dan siswa yang memanfaatkan perpustakaan.
Kedua, mempromosikan kepada orang tua siswa. Kontak antara orang tua dan
pustakawan harus dibina secara erat, bahkan sebaiknya dengan seluruh keluarga
juga diikutsertakan. Salah satu caranya dengan mengadakan pertemuan, setidaknya
satu atau dua kali dalam satu tahun.
Ketiga, mempromosikan perpustakaan kepada para guru. Guru
adalah mitra kerja yang sangat berharga bagi pengelola perpustakaan. Apabila
guru dan pustakawan bekerja sama, akan tercipta lingkungan belajar yang baik.
Pustakawan hendaknya berdiskusi dengan guru tentang buku atau barang apa yang
harus disediakan perpustakaan sekolah.
Keempat, mempromosikan perpustakaan kepada siswa. Siswa
adalah sasaran promosi perpustakaan yang paling mudah. Untuk promosi jenis ini
disarankan menggunakan promosi “mulut ke mulut”, karena dianggap paling
efektif. Jika anak-anak telah memiliki kesan yang positif terhadap perpustakaan
maka akan diikuti teman-teman lainnya yang semula enggan untuk mengunjungi
perpustakaan. Selain itu perlu juga diadakan kontes di perpustakaan yang
melibatkan siswa. Adakan kontes yang tidak selalu terkait dengan kegiatan
membaca, seperti mengarang, mendongeng, menggambar dan lain sebagainya.
Kelima, mempromosikan perpustakaan kepada masyarakat luas.
Masyarakat sekitar sekolah harus dilibatkan ke dalam program perpustakaan.
Cobalah membuka perpustakaan bagi masyarakat.
2.
Strategi Menarik Pengunjung
Ada
banyak cara untuk menarik pengunjung ke perpustakaan. Salah satunya dengan
memberikan stimulus yakni sesuatu yang bisa membuat pengunjung tertarik untuk
datang ke perpustakaan. Berikut beberapa strategi menurut Prastowo (2012: 389).
Pertama, mengadakan kuis tentang
sosok para guru. Adakan acara ini semisal di awal tahun ajaran baru.
Langkahnya, ajaklah murid kelas satu untuk lebih mengenal guru. Buatlah satu
potongan kertas berisi nama guru. Satu potongan kertas lainnya diberikan kepada
para guru untuk diisi pernyataan yang menarik tentang dirinya. Kemudian siswa
diminta menjodohkannya.
Kedua, merayakan peristiwa keagamaan atau budaya. Acara
lain yang menarik dapat pula digelar dengan membuat majalah dinding untuk
memperingati hari perayaan tradisional atau pesta musiman. Gunakan majalah
dinding tersebut untuk menampung kreasi siswa.
Ketiga, mengadakan kuis tau tebakan judul buku. Dalam beberapa
minggu sebelum liburan semester, buatlah para siswa berkunjung ke perpustakaan
dengan membungkus sebuah buku yang popular dengan kertas kado. Tulislah
petunjuk kecil tentang buku tersebut dan gantilah petunjuk tersebut setiap
hari. Buatlah petunjuk tersebut dari yang paling mudah hingga petunjuk yang
paling sulit. Dengan demikian, siswa selalu penasaran untuk mengetahui
jawabannya.
3.
Cara Mempromosikan Perpustakaan Sekolah
Salah
satu tugas utama pustakawan adalah mempromosikan buku dan meningkatkan gairah
baca di antara para siswa. Banyak sekali cara yang bisa ditempuh untuk itu.
Misalnya, melalui bulletin, pesan-pesan atau semboyan pada penanda halaman
buku, menggelar bedah buku, acara mendongeng dan acara lain yang melibatkan
siswa untuk memasyarakatkan buku dan kecintaan membaca. Adapaun tema-tema yang
dapat digunakan contohnya olahraga, perubahan musim, perjalanan ke luar
angkasa, legenda, dan lain sebagainya.
Rencanakan
aktivitas tersebut dengan seksama agar siswa dapat mengikuti tema yang
ditetapkan. Promosikan dan pajanglah buku-buku yang relevan dengan tema
tersebut. Adakan kontes mendongeng dengan tema sama yang dapat diikuti oleh
para siswa dari berbagai kelompok. Gerakan membaca buku juga bisa
disosialisasikan melalui pembagian penanda
halaman buku, jajak pendapat buku favorit, atau dengan mengadakan
pertunjukan sandiwara boneka, memajang poster yang mempromosikan buku. Dan
masih banyak cara lainnya yang bisa dilakukan oleh pustakawansekolah dalam
rangka mempromosikan buku perpustakaan.
Aplikasi
IT Perpustakaan
Seiring
dengan perkembangan waktu, perkembangan Information
and Technology (IT) semakin pesat. Perkawinan antara perpustakaan dengan
dunia IT dalam pelayanan yang diberikan kepada pengguna adalah sesuatu yang
harus dilakukan. Maka dari tu, salah satu strategi pengembangan perpustakaan di
era global sekarang perlu dikembangkan. Bagi yang sudah menggunakannya berarti
harus dilestarikan dan ditingkatkan yaitu otomatisasi perpustakaan.
Selasa
dijelaskan oleh Lasa HS, untuk meningkatkan kinerja perpustakaan dan sesuai
kemampuan perpustakaan sekolah, kiranya perlu dipikirkan otomatisasi
perpustakaan. Otomatisasi perpustakaan sebenarnya merupakan proses atau hasil
penciptaan mesin swatindak atau swakendali dalam proses tersebut. Penerapan
otomatisasi perpustakaan sekolah sebenarnya lebih tepat apabila disebut dengan
teknologi informasi. Yaitu teknologi elektronik
yang digunakan untuk pengumpulan, penyimpanan, pengolahan, dan pemanfaatan
informasi. Dalam hal ini, tidak hanya terbatas pada pemanfaatan perangkat lunak
maupun perangkat keras, tetapi juga melibatkan unsur manusia.
Adapun
pemanfaatan teknologi informasi unsur kegiatan perpustakaan memiliki tujuan. Pertamai, meringankan pekerjaan. Kedua, memudahkan dan memperlancar
pelaksanaan tugas kepustakawanan. Ketiga,
mempercepat proses temu kembali akan informasi. Keempat, memperlancar kerjasama informasi. Kelima, meningkatkan pelayanan informasi dan memanfaatkan teknologi
informasi.
Teknologi
informasi dapat diaplikasikan pada kegiatan pengadaan, inventarisasi,
katalogisasi, sirkulasi, bibliografi, pengindeksan, dan penelusuran literature.
Diakui bahwa pemanfaatan IT ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Untuk itu,
perlu dilakukan studi kelayakan, rancang bangun, implementasi, dan evaluasi.
Contoh aplikasi teknologi informasi dalam kegiatan perpustakaan yang telah
terintegrasi di antaranya kegiatan inventarisasi, katalogisasi, penelusuran
informasi, peminjaman, dan pengembalian buku yang berjalan otomatis. Dalam
sistem ini, pengguna dapat melakukan fotokopi sendiri. Mereka lebih dahulu
mengisikan kartu langganan untuk sejumlah tertentu, seperti voucher pada
handphone. Para pemakai juga bisa bebas mem-browsing dengan internet di tempat selain perpus. Mereka bisa men-download artikel tertentu atau mencetak
pada public printer yang tersedia.
Setelah selesai proses peminjaman tersebut, peminjaman keluar melewati pintu
ber-alarm yang berfungsi sebagai pengontrol dan mencatat pengunjung secara otomatis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Semoga bermanfaat