Menu

Sabtu, 30 April 2016

Penyusunan Program Evaluasi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah


Dunia pendidikan sering kali berhadapan dengan masalah yang berkaitan dengan penghargaan terhadap hasil pendidikan. Dalam segala kegiatan pendidikan haruslah diketahui sampai seberapa jauh hasil belajar anak didik. Hal ini penting dikarenakan  setiap aktivitas yang berencana dan teratur yang dilaksanakan secara berkesinambungan perlu dievaluasi. Demikian pula dalam pelaksanaan program supervisi pendidikan harus dievaluasi.

Supervisi pendidikan sebagai bantuan atau aktivitas pelayanan untuk membantu guru-guru agar pelaksanaan pekerjaannya lebih baik. Salah satu fungsi supervisi pendidikan adalah menilai segala aspek yang terjadi dalam proses pendidikan. Yang utama adaah evaluasi terhadap guru tidak dapat dipisahkan dengan evaluasi terhadap murid, sarana prasarana, masyarakat sekolah, kepemimpinannya, dan administrasinya. Sehingga jelas bahwa supervisi pendidikan merupakan kegiatan yang berprogram, berencana, dan berlangsung secara terus-menerus. Oleh karena itu aktivitas supervisi pendidikan perlu dievaluasi.


Evaluasi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Menurut Echols (dalam Burhanuddin, 2007: 127) kata evaluasi  merupakan terjemahan dari kata evaluation dalam bahasa Inggris yang artinya adalah penaksiran. Kata kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir dan menilai. Sedangkan orang yang menaksir atau menilai disebut dengan evaluator. Evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja, atau produktifitas suatu lembaga dalam melaksanakan programnya (Hakim, 2013). Evaluasi merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan kualitas, kinerja atau produktivitas suatu suatu lembaga dalam melaksanakan programnya (Winarno, 2103). Jadi evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menggunakan patokan-patokan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
Evaluasi program supervisi pendidikan adalah pemberian estimasi terhadap pelaksanaan supervisi pendidikan untuk menentukan keefektifan dan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan supervisi pendidikan yang telah ditetapkan (Burhanuddin, 2007: 137). Untuk perbaikan pengajaran dalam program evaluasi supervisi  melibatkan penentuan perubahan yang terjadi pada periode tertentu. Perubahan yang diharapkan dari semua personel dalam supervisi dan dalam perbaikan program melibatkan supervisor, guru, dan murid. Supervisor dan guru bekerjasama untuk membawa perubahan-perubahan dalam diri anak didik. Dan semua yang harus dipertimbangkan sebagai ruang lingkup supervisi pendidikan meliputi  rencana perbaikan, organisasi pendidikan tujuan yang akan dicapai, teknik-teknik pencapaian tujuan, dan perubahan-perubahan yang dilakukan di bidang kurikulum dan bimbingan. Dengan kata lain dalam mengadakan supervisi pendidikan harus mencakup bidang yang luas, dalam arti bahwa seluruh situasi yang disupervisi, termasuk supervisor juga harus dievaluasi.
            Evaluasi program supervisi pendidikan berusaha menentukan sampai seberapa jauh tujuan supervisi pendidikan telah tercapai. Oleh karena itu bukan saja programnya yang dievaluasi tetapi juga proses pelaksanaan dan hasil supervisi pendidikan,serta ruang lingkupnya yaitu semua komponen yang terkait meliputi aspek personal, aspek material ,dan aspek operasional supervisi pendidikan.
Sebagaimana aktivitas pendidikan yang menentukan hasilnya dalam jangka panjang, supervisi pendidikan juga demikaian. Hasil yang dicapai dalam pelaksanaan supervisi pendidikan yang terutama berkenaan dengan manusia dapat dilihat dalam jangka panjang. Sedangkan hasil supervisi pendidikan yang dapat diketahui secara cepat hanya penampakan hasil sementara. Dan hal ini akan menimbulkan kesulitan bagi kita dalam mengevaluasi program supervuisi pendidikan yang sangat luas, dimana selain guru dan staf sekolah , program sekolah pun merupakan sasaran evaluasi program supervisi pendidikan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Elsbree dkk bahwa ciri utama dari supervisi pendidikan yang modern adalah adanya penekanan pada evaluai, termasuk evaluasi terhadap keberhasilan guru, dan keberhasilan program sekolah.
     
Tujuan Evaluasi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah
Menurut Chester T. Mc Nerney (dalam Burhanuddin, 2007: 138) tujuan evaluasi program supervisi pendidikan adalah meneliti atau menemukan kebutuhan-kebutuhan setiap individu yang dinilai dan kemudian digunakan untuk merencanakan pengalaman belajar yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap individu tersebut. Sedangkan William H. Burton Lea dan J. Bruechkner (dalam Burhanuddin, 2007: 139) menjelaskan bahwa keefektifan supervisi pendidikan dapat dinilai dengan cara mengukur atau mendeskripsikan perubahan-perubahan atau perbaikan-perbaikan yang terjadi dalam keseluruhan program pendidikan. Tujuan evaluasi program supervisi yang digambarkan melalui keseluruhan program pendidikan ini dapat digunakan untuk melihat perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan di bidang:
1.         Pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam mencapai tujuan.
2.         Perbaikan di bidang kurikulum.
3.         Perbaikan praktik mengajar.
4.         Perbaikan kualitas dan pendayagunaan materi pengajaran dan alat bantu mengajar.
5.         Perkembangan personal dan profesional guru secara umum.
6.         Perbaikan hubungan sekolah dan masyarakat.
Pada prinsipnya evaluasi program supervisi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan usaha pelaksanaan program pendidikan secara menyeluruh, baik personel, material, maupun operasionalnya. Dengan evaluasi program supervisi, supervisor dapat:
1.         Mengetahui sejauh mana pelaksanaan supervisi di sekolah mencapai kemajuan.
2.         Memberikan pertimbangan demi perkembangan pendidikan di masa yang akan datang.
3.         Memperbaiki praktik-praktik pembinaan personel di sekolah.
4.         Memberikan dorongan peningkatan proses belajar-mengajar di sekolah.
5.         Mengetahui sejauh mana partisipasi orang tua dan masyarakat terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah.
6.         Memberikan pertimbangan dan saran atas peningkatan pengelolaan sarana dan prasarana sekolah.
7.         Membina para personel sekolah dalam mengelola kurikulum sekolah.
Tujuan evaluasi supervisi pendidikan yang lebih praktis lagi dikemukakan oleh Elsbree dkk (dalam Burhanuddin, 2007: 140) yaitu sebagai berikut:
1.         Membantu kita mengurangi guru-guru yang tidak kompeten.
2.         Memperbaiki mengajar dengan cara mendorong guru-guru untuk memperbaiki pekerjaan mereka.
3.         Meningkatkan administrasi dan membantu administrator dalam promosi pegawainya.

  Prinsip-Prinsip Penyusunan Program Evaluasi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah
Evaluasi program supervisi pendidikan harus di laksanakan dengan berpedoman teguh pada prinsip-prinsip tertentu agar dapat menghasilkan suatu penilaian yang bener-bener bermanfaat  bagi penyusun program supervisi pendidikan berikutnya dan dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah pada umumnya. Evaluasi program supervisi pendidikan memiliki prinsip-prinsip seperti berikut (Burhanuddin, 2007: 140):
1.      Prinsip Komprehensif
Evaluasi program supervisi pendidikan harus mencakup bidang sasaran yang luas atau menyeluruh, baik aspek personal, materi, maupun aspek operasionalnya. Dengan kata lain evaluasi jangan hanya ditujukan pada salah satu aspek saja.
2.      Prinsip Komparatif
Dalam mengadakan evaluasi program supervisi pendidikan harus dilaksanakan secara bekerjasama dengan semua orang yang terlibat dalam aktivitas supervisi pendidikan, hal ini dimaksudkan agar dapat mencapai keobyektifan dalam mengevaluasi.
3.      Prinsip Kontinyu
Evaluasi hendaknya dilakukan secara terus menerus selama proses pelaksanaan program.Tidak hanya dilakukan terhadap hasil yang telah dicapai, sejak pembuatan rencana sampai tahap laporan.Untuk selalu dapat memonitor setiap saat atas keberhasilan yang telah dicapai dalam periode waktu tertentu.Keberhasilan di usahakan untuk di tingkatkan,aktifitas yang gagal dicari jalan lain untuk mencapai keberhasilan.
4.      Prinsip Obyektif
Menilai sesuai dengan kenyataan yang ada.Untuk mencapai keobyektifan dalam evaluasi perlu adanya data dan fakta yang dikelolah untuk kemudian di ambil suatu kesimpulan.
5.      Prinsip berdasarkan kriteria yang Valid
Kriteria yang digunakan dalam evaluasi harus konsisten dengan filsafat dan tujuan yang telah dirumuskan. Kriteria ini digunakan agar memiliki standar yang jelas apabila menilai suatu aktivitas supervisi pendidikan. Kriteria evaluasi dengan filsafat berarti kriteria yang dibuat harus mempertimbangkan hakekat substansi supervisi pendidikan, sedangkan kriteria evaluasi dengan tujuan berarti kriteria yang digunakan menilai harus berdasarkan tujuan pelaksanaan supervisi pendidikan. Kriteria dalam evaluasi program supervisi pendidikan, antara lain: 1) kriteria objektif berkenaan dengan patokan tujuan yang ingin dicapai, 2) kriteria metodis yang berkaitan dengan patokan teknik penganalisaan hasil evaluasi.
6.      Prinsip Fungsional
Hasil evaluasi program supervisi pendidikan berarti funsional apabila dapat digunakan untuk memperbaiki situasi yang ada pada saat itu. Dengan demikian evaluasi program supervisi pendidikan benar-benar memiliki nilai guna, baik secara langsung maupun tidak lansung. Kegunaan langsungnya adalah dapatnya hasil evaluasi digunakan ubtuk perbaikan apa yang dievaluasi, sedangkan kegunaan tidak langsungnya adalah hasil evaluasi tersebut dimanfaatkan untuk penelitian atau keperluan lainnya.
7.      Prinsip Diagnostik
Evaluasi program supervisi pendidikan hendaknya mampu mengidentifikasi kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan apa yang dievaluasi sehingga kita dapat memperbaikinya. Setiap hasil evaluasi harus didokumentasikan agar dapat dijadikan dasar penemuan kelemahan maupun kekurangan yang kemudian harus diusahakan pemecahannya.
      Sedangkan prinsip-prinsip yang dikemukakan Mildred E. Swearingen (dalam Burhanuddin, 2007: 142) antara lain:
1.      Evaluasi Melibatkan Waktu Tiga Dimensional
Dalam evaluasi program supervisi pendidikan harus mempertimbangkan waktu lampau sebagai pertimbangan ada tidaknya perubahan yang terjadi dari waktu lampau hingga sekarang, waktu sekarang sebagai bahan atau fakta sebagai bahan evaluasi, dan waktu mendatang sebagai pertimbangan rencana berikutnya setelah melihat hasil evaluasi sekarang.
2.      Situasi Memiliki Multi Nilai bagi Evaluasi
Evaluasi harus menciptakan keterpaduan nilai dalam kurun situasi tertentu.
3.      Nilai-Nilai Dipengaruhi oleh Siklus Perubahan
Dalam evaluasi supervisi pendidikan harus memperhatikan perubahan-perubahan situasi yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, apabila dahulu penguasaan materi sudah dianggap berhasil, kini pencapaian tujuan yang ditujukan oleh tingkah lakulah yang menjadi acuan.
4.      Nilai-Nilai Harus Dicapai Melalui Media yang Bergayut
Untuk mencapai nilai-nilai dalam supervisi pendidikan dari berbagai keadaan perlu juga digunakan media formal dan informal. Media formal antara lain meliputi skala sikap, tes, wawancara terprogram, dan sebagainya. Media informal yaitu pengamatan sambil lalu, pembicaraan formal, bahan-bahan laporan lisan dan lain sebagainya.
5.      Evaluasi Memiliki Kontinyuitas
Evaluasi program supervisi pendidikan harus dilaksanakan secara terus menerus selama proses berlangsung. Evaluasi tidak hanya menilai hasil yang dicapai pada akhir program, tetapi setiap tahap prosesnya.
6.      Evaluasi Melibatkan Usaha Kooperatif dan Penafsiran Individual secara Bersama-sama.
Evaluasi supervisi pendidikan bisa saja dilaksanakan oleh individu-individu, akan tetapi hasil akhir yang merupakan kesimpulan harus diambil bersama-sama. Yang artinya, hasil evaluasi oleh tiap individu harus dipadukan agar memperoleh hasil yang lebih obyektif.
7.      Evaluasi Merupakan Proses Kreatif
Kreativitas sangat diperlukan daam evaluasi terutama untuk memberi arti terhadap kemajuan agar memperoleh hasil yang cermat. Apalagi dalam keseluruhan sistem, situasi akan selalu berubah, termasuk personel, material, dan cara kerjanya. Hal ini merupakan kesiapan evaluator untuk selalu menggunakan pemikiran intelijen dalam menilai.
Perlunya pengembangan evaluasi program supervisi dan kepemimpinan dikarenakan  beberapa landasan, yaitu sebagai berikut (Burhanuddin, 2007: 143):
1.         Perlunya penerapan dan pemeliharaan berbagai pelayanan sesuai dengan fungsi supervisi pendidikan.
2.         Perlunya penilaian terhadap pelayanan yang telah diberikan kepada para anggota/staff.
3.         Perlunya perencanaan perbaikan personil supervisi, prosedur supervisi, dan pelayanan supervisi.
4.         Perlunya untuk pencarian, latihan, dan seleksi kepala sekolah dan supervisor agar mencapai kualifikasi keterampilan dan kemampuan guru.
Permasalahan yang muncul sebagai akibat adanya evaluasi program supervisi pendidikan adalah bagaimana membuat evaluasi menjadi valid, reliable, dan obyektif. Valid menunjukkan ketetapan sasaran yang memang harus dievaluasi. Reliable menunjukkan ketepatan instrumen evaluasi. Sedangkan obyektif menunjukkan kerealistisan evaluasi yang mendasarkan diri pada kenyataan yang ada.
Ametembun (dalam Burhanuddin, 2007:144) mengemukakan beberapa prinsip umum dalam menyusun program evaluasi yang dekat bagi supervisor. Prinsip-prinsip tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1.         Rencana program evaluasi dalam supervisi pendidikan harus komprehensif.
Para perencana suatu program evaluasi harus memahami aspek-aspek atau ruang lingkup dan menentukan aspek-aspek apa saja yang akan dievaluasi dengan memperhatikan dan memperhitungkan seluruh aspek dalam situasi pendidikan untuk dituangkan dalam program evaluasi.
2.         Penyusunan program evaluasi dalam supervisi pendidikan harus kooperatif dan merupakan bagian yang integral dari program supervisi pendidikan.
Penyusunan program evaluasi hendaknya jangan dikerjakan sendiri oleh supervisor, tetapi sebaiknya mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan melalui wakil-wakilnya yang representatif untuk menyusun bersama program dalam suatu panitia musyawarah. Demikian pula Group Evaluation ini dapat digunakan sebagai suatu teknik evaluasi yang over all mengenai program supervisi pendidikan.
3.         Program evaluasi dalam supervisi pendidikan harus kontinyu dan berintegrasi dengan kurikulum.
Evaluasi dalam supervisi pendidikan harus merupakan suatu proses yang kontinyu atau terus-menerus yaitu sebelum, saat berlangsung, akhir, dan follow up sesuatu kegiatan/perkembangan. Observasi sehari-hari, wawancara ulangan-ulangan, dan sebagainya dapat dimanfaatkan supervisi sebagai suatu prosedur-prosedur evaluasi untuk menilai dan membina perbaikan situasi. Dengan demikian konsep supervisi dalam hubungannya dengan evaluasi yang menganggap bahwa ujian sebagai tujuan akhirnya, daripada menganggap supervisi sebagai alat untuk membina perkembangan dan pengukuran.
4.         Suatu program evaluasi supervisi pendidikan harus berintegrasi dengan kurikulum.
Karena merupakan bagian yang integral dalam membina pengalaman-pengalaman belajar murid-murid dan mengajar guru-guru. Program evaluasi adalah suatu alat bukan hanya untuk membina pertumbuhan dan perkembangan murid-murid melainkan pula untuk mempertimbangkan perubahan-perubahan yang diperlukan dalam merencanakan kurikulum dan dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran.
5.         Penyusunan program evaluasi supervisi pendidikan harus obyektif.
Penyusunan program evaluasi supervisi pendidikan tidak dilakukan secara “asal jadi” tetapi harus dilakukan atas dasar data-data yang up to date dan obyektif semata. Data-data yang dimaksud berupa pengalaman-pengalaman sebelumnya. Penyusunan program evaluasi supervisi pendidikan tidak bisa terlapis dari pelaksanaannya. Oleh sebab itu dalam penyusunannya harus juga didasarkan pada kenyataan yang ada seperti tujuan organisasi, kapasitas organisasi, biaya, dan tenaganya.
6.         Harus ada penghargaan terhadap partisipasi peserta.
Dalam segala aspek dan proses penyusunan evaluasi supervisi pendidikan harus menghargai para peserta atau partisipan baik secara kelompok maupun secara individual. Titik berat penghargaan itu sebaiknya atas adanya prestasi yang dicapai.
7.         Adanya keamanan responden.
Ditilik dari kepentingan subyek yang dievaluasi, maka dalam penyusunan program evaluasi supervisi pendidikan perlu memperhatikan segi security atau keamanan responden mengenai identitasnya.
8.         Adanya jawaban-jawaban yang telah tegas.
Jika jawaban-jawaban yang diharapkan dari responden berupa tanggapan dan pendapat maka sebaiknya dalam penyusunan program evaluasi menggunakan jawaban-jawaban yang tegas guna lebih menjamin tersembunyinya pertimbangan-pertimbangan responden.
9.         Penggunaan sampel yang cukup besar.
Jika program evaluasi yang disusun untuk mengevaluasi suatu kompleks fenomena (gejala-gejala), maka pergunakanlah sampel yang cukup besar.
Sebagai suatu bentuk perencanaan, pengawasan program sekolah berkaitan dengan rangkaian tindakan atau kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengawasan. Dengan memperhatikan langkah pokok perencanaan (Stoner, 1992), terdapat empat tahapan kegiatan yang harus
dilakukan dalam penyusunan evaluasi program sekolah menurut Stoner (dalam Sutapa, 2009: 18) meliputi:
1.      Menetapkan tujuan atau seperangkat tujuan.
2.      Menentukan situasi pada saat ini.
3.      Mengidentifikasi pendukung dan penghambat tujuan.
4.      Mengembangkan seperangkat tindakan untuk mencapai tujuan.

D.           Proses Evaluasi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah
Dalam proses evaluasi di bidang supervisi pendidikan, seorang supervisi mempertimbangkan untuk untuk melakukan sendiri (single process) atau bersama dengan stafnya (cooperative process). Mengingat bahwa supervisi pendidikan bukan tanggung jawab pribadi supervisor, melainkan merupakan karya dan tanggung jawab bersama, maka evaluasi sebagai bagian yang esensial untuk menilai keberhasilan program supervisi pendidikan haruslah dilakukan secara kooperatif dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip supervisi pendidikan yang demokratis dimana seluruh staf dan pihak-pihak yang berkepentingan atau wakil-wakilnya yang representatif di ikut sertakan dan dikerahkan dalarn proses evaluasi dalam suatu wadah “musyawarah”.
      Proses evaluasi program supervisi pendidikan pada dasarnya berupa prosedur, tahapan-tahapan, atau langkah-langkah yang perlu ditempuh oleh supervisor dalam mengevaluasi keberhasilan program supervisi pendidikan. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh meliputi (Burhanuddin, 2007: 146):
1.         Merumuskan Tujuan Evaluasi
Supervisor pertama-tama harus menentukan bersama apa yang hendak dicapai dalam program evaluasinya. Dalam proses yang bersifat kooperatif dibutuhkan waktu untuk mencapai kesepakatan tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai yang merupakan pedoman dan arahan dalam menentukan aspek-aspek yang akan dievaluasi.
Untuk mempermudah proses perumusan tujuan sebaiknya terlebih dahulu diadakan survey atau penelitian sebagai usaha mengiventarisasi kebutuhan-kebutuhan evaluasional suatu situasi, misalnya dengan cara:
a.    Metode analisis: menganalisis tujuan-tujuan umum pendidikan dan supervisi pendidikan yang telah dituangkan dalam program supervisi pendidikan.
b.    Metode angket: mengumpulkan pendapat-pendapat secara tertulis dan pihak-pihak yang bersangkutan, baik secara langsung maupun tidak iangsung dalam rangka menentukan kebutuhan-kebutuhan.
c.    Metode wawancara: menanyakan langsung secara lisan pendapat-pendapat dan pihak-pihak yang bersangkutan mengenai kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Sehubungan dengan itu perlu ada panitia khusus atau panitia survey. Yang bertugas menyusun secara rinci dan definitif tujuan-tujuan pokok yang hendak dicapai dalam program evaluasi supervisi pendidikan.
2.         Menyeleksi Alat-Alat Evaluasi
Banyaknya alat-alat evaluasi pendidikan baik alat-alat yang dikelompokkan dalam teknik yes maupun non tes, oleh karena itu supervisi pendidikan bersama-sama stafnya perlu mengadakan pilihan atau menyeleksi alat-alat yang sekiranya lebih tepat dan lebih baik untuk digunakan dalam situasi tertentu.
3.         Menyusun alat evaluasi
Supervisor penididikan bersama stafnya harus rnenyusun sendiri alat-alat evaluasi yang dibutuhkan. Sesuai dengan hal tersebut, supervisor perlu memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang bentuk-bentuk tes sehingga dapat membantu stafnya dan atau menyusun sendiri alat-alat evaluasi yang dibutuhkan.
Dalam proses penyusunan alat-alat evaluasi ini panitia atau penyusun hendaknya mengajak pula pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyumbangkan ide-ide bagi perumusan item-item (pernyataan-pernyataan/pertanyaan-pertanyaan) yang diperlukan misalnya tiap guru diberi kesempatan menyatakan beberapa aspek mengenai kepemimpinan jika hendak mengevaluasi tentang efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, atau mengenai perasaan kelompok jika hendak mengevaluasi keterampilan keterampilan katua dalam memimpin rapat dan sebagainya.
Jika semua sumbangan pikiran itu telah diterima, harus dituangkan dalarn suatu bentuk tertentu dan diperbanyak untuk disampaikan kembali kepada guru-guru untuk dikoreksi atau diperbaiki Hal terakhir seteiah disempurnakan, dirumuskan dalam bentuk ang permanen dapatlah digunakan sebagai alat evaluasi yang disusun sendiri.
4.         Menerapkan Alat-Alat Evaluasi
Alat-alat evaluasi yang telah disusun sendiri untuk menilai suatu situasi diterapkan yaitu disebarkan kepada pihak-pihak yang bersangkutan (sample) untuk dijawab. Semua lembaran dikumpulkan/dikembalikan kepada panitia secara bebas tanpa membanding-bandingkan jawaban. Untuk menghindari saling terpengaruh opini orang lain, maka perlu ditandaskan bahwa pada saat memberikan jawaban/pertimbangan supaya lepas dan pendapat oring lain.
5.         Mengolah Hasil-Hasil Evaluasi
Hasil-hasil yang diperoleh dalam evaluasi perlu diolah menurut tata cara tertentu oleh sub panitia khusus untuk menganalisis hasil-hasil yang diperoleh. Tata cara pengolahan biasanya meliputi berturut-turut diperiksa, diseleksi, diklasifikasi, dan mungkin saja perlu pula perhitungan-perhitungan statistik seperti menghitung prosentase, mentabulasi, dan sebagainya.
Hasil pengolahan tersebut perlu diinterpretasikan guna memperoleh kesimpulan Kesimpulan tertentu mengenai sampai dimana terwujudnya tujuan supervisi pendidikan yang telah ditetapkan.
6.         Menyimpulkan Hasil-Hasil Evaluasi
Tidaklah mudah menginterpretasikan dan menyimpulkan basil-basil suatu kegiatan evaluasi. Suatu sub panitia khusus dapat melakukan fungsi ini dengan baik dan efektif apabila terpilih dan mereka yang cukup ahli untuk mengadakan analisis terhadap hasil-hasil dan implikasi-implikasinya bagi tindakan. Supervisor dapat memanfaatkan hasil hasil evaluasi ini semaksimal mungkin.
7.         Follow Up Evaluasi
Agar evaluasi terhadap program supervisi pendidikan bermanfaat perlu sekali dipikirkan oleh supervisor akan tiƮdak lanjutnya. Biasanya tindak lanjut atau follow up dan hasil-hasil evaluasi yang diperoleh perlu sekali mendapat supervisi yang seksama dan kontinyu dan supervisor dalam rangka pengembangan program supervisinya.

DAFTAR RUJUKAN:
Burhanuddin, dkk. 2007. Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Kosep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang
Winarno. 2013. Pengertian, Tujuan, Fungsi, Prinsip, dan Ruang Lingkup Evaluasi. (Online), (http://winarno.staff.stainsalatiga.ac.id/wp-content/uploads/sites/25/2013/02/PENGERTIAN-TUJUAN-FUNGSI-PRINSIP.pdf), diakses 5 Februari 2015.
Sutapa, Mada. 2009. Evaluasi Program Sekolah. (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Modul%20PLPG%20Evaluasi%20Program%20Sekolah.pdf), diakses 6 Februari 2015.
Hakim, Zainal. 2013. Pengertian Evaluasi Menurut Para Ahli. (Online), (http://www.zainalhakim.web.id/pengertian-evaluasi-menurut-para-ahli.html), diakses 5 Februari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Semoga bermanfaat